Memahami Tujuh Tradisi Ilmu Komunikasi

Baiklah, saya akan coba rangkumkan ke dalam sebuah simpulan. Bila Anda penasaran dan ingin lebih mendalami, saya akan mencantumkan daftar pustakanya di bagian bawah artikel ini.

Awalnya

“Robert T. Craig”, yang merumuskan 7 (tujuh) tradisi dalam Ilmu Komunikasi pada tahun 1999. Cukup baru, bagi kita yang hidup di tahun 2000-an ini. Namun, tentu ini adalah suatu hal yang “pada akhirnya”, mengingat ilmu komunikasi tercatat telah ada sejak zaman retorika, ketika Aristoteles masih aktif pada era Kerajaan Romawi pada abad ke-5 SM. Akhirnya, ada yang “do something about this”, gitu kira-kira.

Kenapa kok ujug-ujug dia? Pada waktu itu, Craig adalah peneliti ilmu komunikasi yang terlibat langsung dalam penyuntingan editorial sebuah jurnal. Saat ini, menjadi International Communication Association (ICA) yang merupakan asosiasi terbesar keilmuan komunikasi di se-jagad raya. Nah, Craig lah founder nya. Jadi, pada masa tersebut dengan banyaknya irisan-irisan keilmuan sosial yang membicarakan komunikasi dari sudut pandangnya. Yang ini bilang begini, yang itu bilang begitu. Tidak jarang terjadi saling tunjuk dan saling serang untuk membawa orang pada pemahamannya, tanpa menyadari bahwa mereka memang sedang membicarakan sesuatu yang “sama” secara berbeda.

Umpama perdebatan mengenai buah anggur. Seharusnya ini apa? Apakah “buah anggur” [bahasa Indonesia], “grape” [bahasa Inggris], atau “einab” [bahasa Arab]. Kalaulah memang merujuk pada buah yang sama, maka masing-masing nama itu kan berasal dari daerah yang berbeda saja bukan? Untuk apa berdebat sedemikian rupa untuk sesuatu yang sedemikian terang bedanya.

Solusinya

Melihat hal ini, Craig akhirnya melakukan tindakan untuk mengategorikan secara konseptual masing-masing sudut pandang tersebut. Ternyata, memang ada pola pada masing-masing cara. Singkatnya, dari sini lah 7 tradisi muncul.

Tradisi ini disusun berdasarkan bagaimana masing-masing menjelaskan apa itu komunikasi. Jadi, bukan berdasarkan kronologi kemunculan realitas sosial pada setiap zaman. Berdasarkan cara ini, Robert mau menunjukkan bahwa cara-cara berpikir ini bukan sekadar persoalan mana yang (pemikiran) “baru” atau “lama”. Melainkan, masing-masing (memang) memahami komunikasi secara berbeda, dan ia mengakui hal itu.

Hasilnya

Setelah tradisi ini diumumkan, ketika ada perdebatan di kemudian hari, mereka yang berdebat dapat merujuk pada tradisi ini untuk memahami ontologinya. Dari situ, dengan sendirinya dapat diketahui sisi epistemologinya. Akhirnya, posisi Ilmu Komunikasi dapat dipahami dengan lebih baik.

Kedepannya

Jadi tujuh tradisi ini ialah untuk mengelompokkan cara berpikir peneliti, bukan untuk menyeragamkan realitas ke dalam pemahaman peneliti. Sebab, jika berdasarkan realitas, tujuh tradisi ini tentu tidak dapat menjelaskan semuanya secara lengkap dan rinci.

Kemungkinan munculnya tradisi yang benar-benar baru sangat besar, namun tradisi tersebut harus melewati uji teoritis yang ketat. Fenomena tidak boleh sekadar menjadi alat baru, tetapi ia harus mengubah definisi komunikasi secara mendasar. Contoh pertimbangannya sebagai berikut:

  • Kapan hal itu hanya menjadi Sub-Tradisi;
    • Fenomenanya adalah “Penggunaan AI untuk memproduksi berita palsu secara massal demi memanipulasi pemilihan umum”. Ini jelas merupakan masalah modern. Namun, secara teoritis, ini adalah tradisi kritis (mengungkap kekuasaan yang tidak adil dan propaganda). Bisa juga tradisi Sosio-psikologis (mengukur bagaimana pesan mengubah perilaku) yang mengenakan “topeng digital”. Artinya, definisi komunikasinya tidak berubah, hanya kecepatan dan medianya yang berubah.
  • Kapan hal itu menjadi tradisi baru
    • Ketika ia memperkenalkan kosakata yang benar-benar unik, dengan perspektif yang tidak dapat dijelaskan oleh ketujuh tradisi lainnya. Tradisi tersebut harus menyoroti “sisi manusia di dalamnya” serta menyadari bahwa tidak ada lagi definisi yang telah ada, relevan dengan yang diusung.

Robert Craig sebagai “Bapak” dari tradisi ini tentu cukup arif dan bijaksana untuk menyadari perkembangan manusia dari masa ke masa serta kondisi keilmuan ini. Maka, ia memang merancang peta tradisi ini bersifat “terbuka” [open-ended]. Ia secara eksplisit menyatakan bahwa ketujuh tradisi ini bukanlah keputusan final, dan tradisi-tradisi baru perlu ditambahkan jika sejarah manusia menuntutnya.

Ia Menepati Ujarannya: Hadirnya Tradisi ke 8

Sekitar satu dekade setelah menyusun peta tujuh tradisi tersebut (tahun 2007), Craig bersama peneliti ilmu komunikasi lainnya mengusulkan penambahan tradisi Pragmatis ke dalam tradisi yang sudah ada.

Alasannya karena masyarakat telah sangat majemuk, terpolarisasi dan luar biasa kompleks (kita bisa sadari sendiri ya keadaan ini sekarang!). Pragmatis ini, mendefinisikan komunikasi sebagai upaya praktis dan solutif dalam dunia yang majemuk. Jadi, komunikasi tidak sekadar berfokus pada kebenaran yang mendalam dan mutlak, atau yang efisien. Tapi lebih kepada penjagaan harmoni – ya pragmatis itu tadi.

Demikian, Wassalam!

Daftar Pustaka:

  • DeVito, J. A. (2018). Human Communication: The Basic Course (14th ed.). Pearson Education.
  • Craig, R. T., & Muller, H. L. (Eds.). (2007). Theorizing Communication: Readings Across Traditions. SAGE Publications.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top